Senin, 22 Desember 2008

CintaMu Tak Tampak Sebening Embun

Cinta Allah,

Tak selamanya tampak indah sebening embun.

Dia tak selalu hangat secerah mentari

Ada kalanya ia kasar dan tajam

Terkadang ia perih sepanas bara api

Mungkin ia juga gelap, dingin, dan kaku seperti malam

Dia yang menghalangi kita menari dengan bahagia di tengah padang rumput yang luas

Dia yang mengganggu kita ketika asyik bermain di tengah gerimis

Dia yang melarang kita bersenandung sambil berlari-lari di halaman rumah

Namun,

karena ia bernama cinta,

ia pasti bermakna kebaikan

Walaupun awalnya terasa menyesakkan dan pahit,

ia selalu berakhir, seperti cinta pada umumnya,

indah dan menyenangkan,

tanpa penyesalan.

Karena ia tau, di antara semak belukar padang rumput yang luas itu terdapat singa yang mengintai

Karena ia tau, gerimis akan disusul oleh hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar

Karena ia tau, di ujung halaman rumah itu, ada jurang yang terjal

Karena ia tau apa yang tidak diketahui oleh kesombongan kita

Karena cintaNya tidak dapat diucapkan dengan kata-kata terpuitis sekalipun

Karena cintaNya tidak dapat diilustrasikan dengan lukisan terindah sekalipun

Karena cintaNya tidak dapat dinyanyikan dengan melodi termedu sekalipun

Mungkin cintaNya hanya dapat diceritakan dengan kepedihan

Allah, You are so mysterious..

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (Al-Baqarah:216)”

ANJING

Pada suatu sore, langit cerah, bunga-bunga bermekaran, senja menyemburatkan warna jingga (aduh, lebay banget sih..)

Sang tokoh utama kita sedang duduk termenung di bawah pohon. Tiba-tiba lewatlah sekelompok anak muda yang baru saja pulang sekolah.

“Eh, gimana tadi ujian, bisa gak?”

“Anjing, susah banget soalnya! Gue paling Cuma bisa setengahnya.” (sang tokoh utama kita, yang merasa terpanggil pun menengok dengan takzimnya).

“Lo kemaren main aja sih, gak buka buku sama sekali..” (sang tokoh utama masih memandangi dua anak muda itu).

Setelah mereka pergi, dia pun kembali meletakkan dagu di atas tanah, bengong lagi. Tak beberapa lama kemudian, lewatlah segerombolan preman dengan wajah sangar dan tangan bertato.

“Anjrit, gue tadi ditegur polisi di lampu merah!”, kata preman dengan codet di pipi (sang tokoh utama kita terpesona, namanya dipanggil lagi, nama beken lagi!).

“Kasian amat sih lo! Gue tadi berhasil nodong ibu-ibu di gang sukun. Anjir uangnya bergepok-gepok, bro!”, kata preman dengan tato kuda nil di lengan (tokoh utama kita pun makin gembira, mendengar namanya disebut lagi).

Bunyi sirine memecahkan keheningan sore, pak polisi dengan motor patrolinya sedang berkeliling wilayah jajahan.

“Anjing, polisi! Ayo kabur!”. Kedua preman itu pun lari tunggang langgang, diikuti tatapan kagum tokoh utama yang sedang kege-eran (saking ngefansnya sama tokoh utama kita, namanya berkali-kali disebut).

Dari ujung jalan, terlihatlah dua orang anak kecil berjalan dengan riang. Tiba di bawah pohon, mereka terhenti.

“Ih, anjingnya lucu bangeeeet..”

“Iya, bawa pulang yuk…”

Mereka pun pulang dengan membawa pergi tokoh utama kita di pelukan (anak kecil aja bisa menggunakan kata anjing pada tempatnya).

Sambut Ramadhan dengan Ucapan yang Baik

Rabu, 24 September 2008

YES or NO

Di suatu siang yang panas, seusai kuliah yang sangat menjenuhkan, tiba-tiba kamu bertemu dua orang temanmu. Yang satu namanya Yes, yang satu lagi namanya No. Nah, kamu berkesempatan untuk mengobrol dengan salah satu dari mereka.


Kasus pertama, kamu mengobrol dengan si No:

Kamu : eh, abis kuliah ya?

No : iya, tadi ada kuis lagi, susah

banget.

Kamu : emang kenapa, gak bisa?

No : dosennya gak enak banget

ngajarnya.

Kamu : wah, gawat dong kalo gitu, bisa

kacau pas ujian beneran.

Gimana kalo pindah kelas aja?

No : mm, gimana ya? Emang kelas

mana yg dosennya enak

ngajarnya?

Kamu : ke kelas 10 aja…

No : nggak ah.. dosennya suka

ngasih tugas. Gimana nih??

(sambil ngerengut)


Kasus kedua, kamu mengobrol dengan si Yes:

Kamu : eh, abis kuliah ya?

Yes : iya, tadi ada kuis

Kamu : susah ya?

Yes : iya sih, lumayan..

habis gak belajar

kemarin.

Kamu : wah, gawat dong kalo gitu,

bisa kacau pas ujian

beneran.

Yes : yaaa, besok-besok

mesti

lebih baik. Semangat-

semangat!

Kamu : iya, semangat!

Yes : pokoknya besok-besok

kita mesti dapet nilai A

(sambil tersenyum

lebar)


Nah, udah bisa kebayang situasinya? Mana yang bikin pikiran kamu yang bete bisa jadi fresh lagi? Lebih enak yang mana, menghadapi:

Orang yang selalu menyalahkan keadaan dan mengobral kemalangan, atau

Orang yang belajar dari kesalahan dan mempromosikan kebahagiaan?


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim:7)


Di bulan Ramadhan ini, mari kita mulai menanamkan sikap bersyukur akan karunia Allah, berusaha memperbaiki diri, dan menatap dunia dengan tersenyum. ^ ^


Selasa, 15 Juli 2008

Tepat Waktu

Kamu selalu datang kuliah
TEPAT WAKTU

Kamu selalu datang rapat-rapat
TEPAT WAKTU

Kamu selalu menemui temanmu
TEPAT WAKTU

Tapi kenapa kamu tidak selalu menemuiKu
TEPAT WAKTU???

Padahal,
Katanya kau mencintaiKu
Aku lebih penting dari segalanya
Kau takut kepadaKu

Aku penciptamu!!!
Aku yang selalu menjawab doa-doamu!
Aku yang selalu memelihara dan melindungimu!

Kenapa kau tidak datang
TEPAT WAKTU???




(maafkan aku, ya Allah…)

Kangen Engkau...

Kala hati tak lagi dapat memenuhi sebuah panggilan cinta
Siapa lagi yang dapat membela nurani?
Sebongkah rasa sudah keras terbekukan congkak
Air mata pun tak dapat melelehkan jiwa

Wahai jasad,
Kenapa engkau begitu berat digerakkan untuk menghadap Sang Pencipta?
Apakah engkau sudah yakin tahan menghadapi panasnya neraka?

Wahai jiwa,
Mengapa engkau susah untuk berbicara pada
Sang Kekasih?
Apakah engkau telah lupakan asa untuk mencapai
surga?

Wahai akal,
Mengapa engkau enggan untuk selalu mengingat
Dia Yang Maha Mengetahui?
Apakah pintarmu dan hebatmu mampu menyembunyikan dosa-dosa?

Wahai manusia,
Biarkan aku bertemu kekasihku
Sebentar saja...
Izinkan aku
pergi mengetuk pintu langitNya

Hati-hati, ya...

Aku rupawan

Aku memukau

Aku bertutur halus

Aku bersenyum manis

Aku bersikap lembut

Aku akan setia mengikutimu

Membisikkan kata-kata indah di telingamu

Aku akan bersandar manja di bahumu

Membuatmu melayang jauh

Aku akan berbaring nyaman di pangkuanmu

Membuatmu lupa akan yang lain


Tapi,

Berhati-hatilah!

Aku jahat

Aku tidak bisa dipercaya

Aku menjerumuskan

Aku akan membawamu ke jurang neraka bersamaku

Aku akan menjadikanmu budakku

Aku akan menenggelamkanmu dalam dosa-dosa


Mendekatlah padaku,

Tapi berhati-hatilah

Sebab aku penipu

Wahai Zaman

Wahai ZAMAN!

Kami adalah para PEMUDA!

Kami berjanji akan selalu memiliki

ENERGI untuk MELEDAK dan

Menciptakan PERUBAHAN


Kami berjanji akan berusaha

Mewarnai PERADABAN dengan warna-warna kami

Warna-warna SEMANGAT

Warna-warna PERJUANGAN

Warna-warna KEADILAN

Warna-warna KEDAMAIAN

Warna-warna DIEN ALLAH!

ISLAM

Wahai ZAMAN!

Engkaulah saksi kami

Engkaulah saksi kemenangan kami,

PARA PEMUDA ISLAM

Kepada Saudaraku

Saudaraku,

saat ini aku sedang bersedih hati

Sedih memikirkan nasib bangsa ini

Sedih memikirkan masa depan umat di bumi Allah


Tahukah kalian?

saat kulihat siaran berita sore ini,

tak terasa…

Air mata menitik,

mengalir deras

Hati ini sesak oleh berbagai perasaan

Marah

Malu

Benci

Sedih

Sesal

Putus asa

Tak berdaya

Ah, entahlah…



Tahukah kalian?

Di saat kalian merayakan tahun baru semalam,

saat kalian terpukau menyaksikan semburat warna kembang api,

saat kalian tertawa-tawa bersama teman kalian,

saat kalian menari-nari dengan alunan musik,

saat kalian bermesraan dengan kekasih,

saat kalian makan dan minum di restoran mewah,

ada orang-orang yang menggigil kedinginan di bawah jembatan,

ada anak-anak yang menangis karena kelaparan,

ada orang-orang yang masih bekerja keras demi sesuap nasi,

ada anak-anak yang merenung,

bagaimana membayar uang sekolah?

besok makan apa?

apakah besok kami masih bisa bertahan hidup?


Bali,

Dua orang petugas keamanan tewas dikeroyok pengunjung café yang memaksa masuk tanpa membayar

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang menangis pilu karena ditinggal suami, ayah, saudara, orang tercinta


Jakarta,

Banjir masih menggenangi daerah Kebayoran Baru

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang tidur gemetaran karena kaki mereka terendam air seharian


Saudara,

tahukah kalian?

Mereka membutuhkan uang,

yang kalian bakar untuk menyaksikan kemeriahan petasan dan kembang api

yang kalian habiskan di café-café termahal ibu kota

yang kalian sia-siakan untuk membahagiakan hati sang kekasih semu

yang kalian buang di malam pergantian tahun


Sadarkah kalian?

Nasib bangsa ini ada di tangan siapa?

Para pemuda-pemudanya!

Kalian!

Kita!




Tapi,,, bisakah nsib bangsa ini dipikul oleh

Pemuda-pemuda hedonis?

Pemuda-pemuda egois?

Pemuda-pemuda individualis?


Saudara, sadarlah…

Sampai kapan kita mau terus memikirkan diri sendiri?

Sampai kapan bangsa kita mau terus seperti ini?



Bandung 1 Januari 2008

Di tengah rintik hujan sore hari

Ah,, entah hujan atau tangisan bumi



Allah,

Aku ingin bangsaku maju

Aku ingin pemuda-pemuda bangsaku peka, peduli, dan bersatu

Aku ingin menjadi bagian dari kejayaan negeriku


Izinkan aku mewarnai negeriku, ya Allah

Izinkan aku mewarnainya dengan warna Islam