Selasa, 15 Juli 2008

Tepat Waktu

Kamu selalu datang kuliah
TEPAT WAKTU

Kamu selalu datang rapat-rapat
TEPAT WAKTU

Kamu selalu menemui temanmu
TEPAT WAKTU

Tapi kenapa kamu tidak selalu menemuiKu
TEPAT WAKTU???

Padahal,
Katanya kau mencintaiKu
Aku lebih penting dari segalanya
Kau takut kepadaKu

Aku penciptamu!!!
Aku yang selalu menjawab doa-doamu!
Aku yang selalu memelihara dan melindungimu!

Kenapa kau tidak datang
TEPAT WAKTU???




(maafkan aku, ya Allah…)

Kangen Engkau...

Kala hati tak lagi dapat memenuhi sebuah panggilan cinta
Siapa lagi yang dapat membela nurani?
Sebongkah rasa sudah keras terbekukan congkak
Air mata pun tak dapat melelehkan jiwa

Wahai jasad,
Kenapa engkau begitu berat digerakkan untuk menghadap Sang Pencipta?
Apakah engkau sudah yakin tahan menghadapi panasnya neraka?

Wahai jiwa,
Mengapa engkau susah untuk berbicara pada
Sang Kekasih?
Apakah engkau telah lupakan asa untuk mencapai
surga?

Wahai akal,
Mengapa engkau enggan untuk selalu mengingat
Dia Yang Maha Mengetahui?
Apakah pintarmu dan hebatmu mampu menyembunyikan dosa-dosa?

Wahai manusia,
Biarkan aku bertemu kekasihku
Sebentar saja...
Izinkan aku
pergi mengetuk pintu langitNya

Hati-hati, ya...

Aku rupawan

Aku memukau

Aku bertutur halus

Aku bersenyum manis

Aku bersikap lembut

Aku akan setia mengikutimu

Membisikkan kata-kata indah di telingamu

Aku akan bersandar manja di bahumu

Membuatmu melayang jauh

Aku akan berbaring nyaman di pangkuanmu

Membuatmu lupa akan yang lain


Tapi,

Berhati-hatilah!

Aku jahat

Aku tidak bisa dipercaya

Aku menjerumuskan

Aku akan membawamu ke jurang neraka bersamaku

Aku akan menjadikanmu budakku

Aku akan menenggelamkanmu dalam dosa-dosa


Mendekatlah padaku,

Tapi berhati-hatilah

Sebab aku penipu

Wahai Zaman

Wahai ZAMAN!

Kami adalah para PEMUDA!

Kami berjanji akan selalu memiliki

ENERGI untuk MELEDAK dan

Menciptakan PERUBAHAN


Kami berjanji akan berusaha

Mewarnai PERADABAN dengan warna-warna kami

Warna-warna SEMANGAT

Warna-warna PERJUANGAN

Warna-warna KEADILAN

Warna-warna KEDAMAIAN

Warna-warna DIEN ALLAH!

ISLAM

Wahai ZAMAN!

Engkaulah saksi kami

Engkaulah saksi kemenangan kami,

PARA PEMUDA ISLAM

Kepada Saudaraku

Saudaraku,

saat ini aku sedang bersedih hati

Sedih memikirkan nasib bangsa ini

Sedih memikirkan masa depan umat di bumi Allah


Tahukah kalian?

saat kulihat siaran berita sore ini,

tak terasa…

Air mata menitik,

mengalir deras

Hati ini sesak oleh berbagai perasaan

Marah

Malu

Benci

Sedih

Sesal

Putus asa

Tak berdaya

Ah, entahlah…



Tahukah kalian?

Di saat kalian merayakan tahun baru semalam,

saat kalian terpukau menyaksikan semburat warna kembang api,

saat kalian tertawa-tawa bersama teman kalian,

saat kalian menari-nari dengan alunan musik,

saat kalian bermesraan dengan kekasih,

saat kalian makan dan minum di restoran mewah,

ada orang-orang yang menggigil kedinginan di bawah jembatan,

ada anak-anak yang menangis karena kelaparan,

ada orang-orang yang masih bekerja keras demi sesuap nasi,

ada anak-anak yang merenung,

bagaimana membayar uang sekolah?

besok makan apa?

apakah besok kami masih bisa bertahan hidup?


Bali,

Dua orang petugas keamanan tewas dikeroyok pengunjung café yang memaksa masuk tanpa membayar

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang menangis pilu karena ditinggal suami, ayah, saudara, orang tercinta


Jakarta,

Banjir masih menggenangi daerah Kebayoran Baru

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang tidur gemetaran karena kaki mereka terendam air seharian


Saudara,

tahukah kalian?

Mereka membutuhkan uang,

yang kalian bakar untuk menyaksikan kemeriahan petasan dan kembang api

yang kalian habiskan di café-café termahal ibu kota

yang kalian sia-siakan untuk membahagiakan hati sang kekasih semu

yang kalian buang di malam pergantian tahun


Sadarkah kalian?

Nasib bangsa ini ada di tangan siapa?

Para pemuda-pemudanya!

Kalian!

Kita!




Tapi,,, bisakah nsib bangsa ini dipikul oleh

Pemuda-pemuda hedonis?

Pemuda-pemuda egois?

Pemuda-pemuda individualis?


Saudara, sadarlah…

Sampai kapan kita mau terus memikirkan diri sendiri?

Sampai kapan bangsa kita mau terus seperti ini?



Bandung 1 Januari 2008

Di tengah rintik hujan sore hari

Ah,, entah hujan atau tangisan bumi



Allah,

Aku ingin bangsaku maju

Aku ingin pemuda-pemuda bangsaku peka, peduli, dan bersatu

Aku ingin menjadi bagian dari kejayaan negeriku


Izinkan aku mewarnai negeriku, ya Allah

Izinkan aku mewarnainya dengan warna Islam