Selasa, 15 Juli 2008

Kepada Saudaraku

Saudaraku,

saat ini aku sedang bersedih hati

Sedih memikirkan nasib bangsa ini

Sedih memikirkan masa depan umat di bumi Allah


Tahukah kalian?

saat kulihat siaran berita sore ini,

tak terasa…

Air mata menitik,

mengalir deras

Hati ini sesak oleh berbagai perasaan

Marah

Malu

Benci

Sedih

Sesal

Putus asa

Tak berdaya

Ah, entahlah…



Tahukah kalian?

Di saat kalian merayakan tahun baru semalam,

saat kalian terpukau menyaksikan semburat warna kembang api,

saat kalian tertawa-tawa bersama teman kalian,

saat kalian menari-nari dengan alunan musik,

saat kalian bermesraan dengan kekasih,

saat kalian makan dan minum di restoran mewah,

ada orang-orang yang menggigil kedinginan di bawah jembatan,

ada anak-anak yang menangis karena kelaparan,

ada orang-orang yang masih bekerja keras demi sesuap nasi,

ada anak-anak yang merenung,

bagaimana membayar uang sekolah?

besok makan apa?

apakah besok kami masih bisa bertahan hidup?


Bali,

Dua orang petugas keamanan tewas dikeroyok pengunjung café yang memaksa masuk tanpa membayar

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang menangis pilu karena ditinggal suami, ayah, saudara, orang tercinta


Jakarta,

Banjir masih menggenangi daerah Kebayoran Baru

Di saat kalian berpesta, ada orang-orang yang tidur gemetaran karena kaki mereka terendam air seharian


Saudara,

tahukah kalian?

Mereka membutuhkan uang,

yang kalian bakar untuk menyaksikan kemeriahan petasan dan kembang api

yang kalian habiskan di café-café termahal ibu kota

yang kalian sia-siakan untuk membahagiakan hati sang kekasih semu

yang kalian buang di malam pergantian tahun


Sadarkah kalian?

Nasib bangsa ini ada di tangan siapa?

Para pemuda-pemudanya!

Kalian!

Kita!




Tapi,,, bisakah nsib bangsa ini dipikul oleh

Pemuda-pemuda hedonis?

Pemuda-pemuda egois?

Pemuda-pemuda individualis?


Saudara, sadarlah…

Sampai kapan kita mau terus memikirkan diri sendiri?

Sampai kapan bangsa kita mau terus seperti ini?



Bandung 1 Januari 2008

Di tengah rintik hujan sore hari

Ah,, entah hujan atau tangisan bumi



Allah,

Aku ingin bangsaku maju

Aku ingin pemuda-pemuda bangsaku peka, peduli, dan bersatu

Aku ingin menjadi bagian dari kejayaan negeriku


Izinkan aku mewarnai negeriku, ya Allah

Izinkan aku mewarnainya dengan warna Islam

1 komentar:

Mbak Ros mengatakan...

sekarang sudah Desember 2008
kondisi bangsa tak banyak berubah ya nampaknya?
malah kalau inget kita dapet krisis global di akhir tahun
semoga tahun depan Indonesia lebih baik ya

salam kenal,
assalamu'alaikum...